Kamis, 16 April 2009

infus

INFUS
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative, dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dasar proyeksi kinetis angka kematian mikroba. 
( Lachman, hal 1254 ).
Sediaan parenteral volume besar umumnya diberikan lewat infus intravena untuk menambah cairan tubuh, elektrolit, atau untuk memberi nutrisi. Infus intravena adalah sediaan parenteral dengan volume besar yang ditujukan untuk intravena. Pada umumnya cairan infus intravena digunakan untuk pengganti cairan tubuh dan memberikan nutrisi tambahan, untuk mempertahankan fungsi normal tubuh pasien rawat inap yang membutuhkan asupan kalori yang cukup selama masa penyembuhan atau setelah operasi. Selain itu ada pula kegunaan lainnya yakni sebagai pembawa obat-obat lain. 
Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah plastik atau gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain. Oleh karena volumenya yang besar, pengawet tidak pernah digunakan dalam infus intravena untuk menghindari toksisitas yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu sendiri. Cairan infus intravena biasanya mengandung zat-zat seperti asam amino, dekstrosa, elektrolit dan vitamin.
Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat.
Persyaratan
1. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam sediaan; terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat perusakan obat secara kimia.
2. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan material dinding wadah.
3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. untuk itu, beberapa faktor yang paling banyak menentukan adalah:
a) bebas kuman
b) bebas pirogen
c) bebas pelarut yang secara fisiologis tidak netral
d) isotonis
e) isohidris
f) bebas bahan melayang
Keuntungan pemberian infus intravena adalah menghasilkan kerja obat yang cepat dibandingkan cara-cara pemberian lain dan tidak menyebabkan masalah terhadap absorbsi obat. Sedangkan kerugiannya yaitu obat yang diberikan sekali lewat intravena maka obat tidak dapat dikeluarkan dari sirkulasi seperti dapat dilakukan untuk obat bila diberikan per oral, misalnya dengan cara dimuntahkan
Pembahasan:
Infus tidak perlu pengawetkarena volume sediaan besa. Jika ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet yang dibutuhkan besar sehingga dapat menimbulkan efek toksis




INFUS IV Ca GLUKONAT / GLUKONAT
Dalam percobaan ini akan dibuat sediaan infus intravena kalsium glukonat yang merupakan larutan supersaturasi yang distabilkan dengan penambahan 35 mg kalsium D-saccharate, dan harus disimpan pada suhu kamar. Laju infus maksimum yang disarankan adalah 200 mg/menit.
Farmakologi :
Kalsium merupakan mineral yang penting untuk pemeliharaan kesempurnaan fungsi susunan saraf, otot, sistem rangka, dan permeabilitas membran sel. Kalsium adalah aktivator yang penting pada beberapa reaksi enzimatis dan berperan dalam proses fisiologi yang mencakup transmisi rangsangan oleh saraf, kontraksi jantung, otot polos dan otot rangka, fungsi renal, pernafasan dan koagulasi darah. Kalsium juga berperan dalam reaksi pelepasan dan penyimpanan neurotransmiter dan hormon, pengambilan dan pengikatan asam amino, absorbsi vitamin B12 dan sekresi asam lambung.
Farmakokinetik :
Injeksi garam kalsium langsung masuk kedalam pembuluh darah. Setelah diinjeksi, kalsium darah meningkat dengan cepat dan kembali turun dalam 30 menit sampai 2 jam, terdistribusi cepat dalam jaringan serta dieliminasi melalui urine.
INFUS IV DEKSTRAN
Kehilangan darah, sejauh jumlahnya tidak melampaui 10% dari jumlah total, tubuh masih dapat menyeimbangkannya kembali. Jika kehilangannya lebih besar, harus disuplai cairan pengganti darah untuk mengisi plasma melalui jalan infus ke dalam tubuh. Hal tersebut dibutuhkan juga pada syok perdarahan, akibat luka (kebakaran, luka dalam) pada sakit perut atau muntah yang berkepanjangan. 
Infus dextran 70 merupakan larutan makromolekul yang memiliki waktu tinggal yang lebih panjang dalam pembuluh darah, karena tidak atau sedikit mengalami difusi, juga airnya terikat secara hidratasi. Yang menentukan dextran 70 sebagai bahan pengganti plasma adalah berat molekulnya diatas 20.000. Pengisisan volume darah dapat dilakukan dengan larutan NaCl fisiologis atau dengan larutan elektrolit, namun jumlah cairan yang dimasukkan tersebut hanya sebentar berada dalam peredaran darah, untuk kemudian segera dieliminasi keluar tubuh melalui ginjal
INFUS IV ELEKTROLIT UNTUK DEHIDRASI
Fungsi larutan elektrolit secara klinis digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada 2 jenis kondisi plasma yang menyimpang, yaitu :
1. Asidosis
Kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya ion klorida dalam jumlah berlebih.
2. Alkalosis
Kondisi plasma yang terlampau basa akibat ion Na, K, Ca dalam jumlah berlebih
Kehilangan natrium disebut hipovolemia, sedangkan kekurangan H2O disebut dehidrasi, kekurangan HCO3 disebut asidosis, metabolic dan kekurangan K+ disebut hipokalemia. (Formulasi Steril, Stefanus Lukas, hal. 62)
Dehidrasi adalah hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional dibandingkan dengan hilangnnya air. Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan osmotic cairan tubuh akibat dari rasa haus yang tidak merangsang penggantian air yang hilang dengan cukup (Dorlan ed. 26, hal. 498)
Pada pasien yang tidak sadar atau mengalami gangguan keseimbangan elektrolit akut, sehingga harus segera diberikan ion-ion Ca2+, Na+, K+, Ce- dan HCO3-, dan sebagai sumber kalori dimana pengganti cairan dan kalori dibutuhkan, karena ion-ion tersebut dibutuhkan oleh tubuh untuk memnuhi kebutuhan elektrolit tubuh pada ekstrasel dan intrasel. Cairan ekstrasel baik plasma darah maupun cairan intrsel mengandung ion natrium dan klorida dalam jumlah yang besar, ion bilarbonat dalam jumlah yang agak besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion kalium, magnesium phospat, sulfat, dan asam organic.disamping itu plasma mengandung protein dalam jumlah yang besar, sedangkan cairan intrasel hanya mengandung protein dalm jumlah protein yang leih kecil.
Cairan intasel hanya mengandung sejumlah kecil ion natrium dan klorida serta hampir tidak mengandung ion kalsium, tetapi ia mengandung ion kalium dan phospat dalam jumlah besar serta ion magnesium dan sulfat dalam jumlah cukup besar, semuanya hanya ada dalam konsentrasi yang kecil dalam cairan ekstrasel.
Bahan-bahan yang digunakan (NaCl, KCl, NaHCO3, CaCl2) mudah larut dalam air, sehingga dapat digunakan air sebagai pembawanya. Air yang digunakan harus bebas pirogen. Pirogen merupakan produk metabolisme m.o (umumnya bakteri, kapang dan virus). Secara kimiawi, pirogen adalah zat lemak yang berhubungan dengan suatu molekul pembawa yang biasanya merupakan polisakarida, tapi bisa juga peptide. 
Pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi. Pirogen dapat dihilangkan dari larutan dengan absorbsi menggunakan absorban pilihan. (Lachman, hal. 1295-1296). Ion-ion ini diberikan dalam bentuk injeksi iv karena diharapkan dapat segera memberikan efek. 
INFUS IV GLUKOSA NaCl / GLUKOSA 10%
Pada umumnya larutan glukosa untuk injeksi digunakan sebagai pengganti kehilangan cairan tubuh, sehingga tubuh kita mempunyai energi kembali untuk melakukan metabolismenya dan juga sebagai sumber kalori. Dosis glukosa adalah 2,5-11,5 % (Martindale), pada umumnya digunakan 5 %. Dalam formula ini ditambahkan NaCl supaya diapat larutan yang isotonis, dimana glukosa disini bersifat hipotonis. Dalam pembuatan aqua p.i ditambahkan H2O2 yang dimaksudkan untuk menghilangkan pirogen, serta di dalam pembuatan formula ini ditambahkan norit untuk menghilangkan kelebihan H2O2.
INFUS IV MENGANDUNG Na, Ca, K
Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis sel.
Natrium klorida (NaCl), natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya. Sering digunakan dalam infus dengan elektrolit lain.
Equvalent elektrolit (Steril Dosage Form, hal 250) :
Na+ = 135 mEq
K+ = 5 mEq
Ca+ = 5 mEq
Mg+ = 2 mEq
Kesetaraan ekuivalen elektrolit (Martindale) :
1g NaCl ~ 17,1 mEq Na+ E1 = 1,00
1g KCl ~ 13,4 mEq K+ E1 = 0,76
1g CaCl ~ 13,6 mEq Ca+ E1 = 0,51
1g MgCl ~ 9,8 mEq Mg+ E1 = 0,45
INFUS IV NaCl
Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya, juga pada pembentukan perbedaan potensial ( listrik ) yang perlu bagi kontraksi otot dan penerusan impuls di syaraf.
Defisiensi natrium dapat terjadi akibat kerja fisik yang terlampau berat dengan banyak berkeringat dan banyak minum air tanpa tambahan garam ekstra. Gejalanya berupa mual, muntah, sangat lelah, nyeri kepala, kejang otot betis, kemudian juga kejang otot lengan dan perut.
Selain pada defisiensi Na, natrium juga digunakan dalam bilasan 0,9 % ( larutan garam fisiologis ) dan dalam infus dengan elektrolit lain.


INFUS IV PENGGANTI CAIRAN TUBUH
Air beserta unsur-unsur didalamnya yang diperlukan untuk kesehatan sel disebut cairan tubuh. 
Cairan tubuh dibagi menjadi dua yaitu :
1. Cairan Intraseluler, cairan ini mengandung sejumlah ion Na dan klorida serta hampir tidak mengandung ion kalsium, tetapi cairan ini mengandung ion kalium dan fosfat dalam jumlah besar serta ion Magnesium dan Sulfat dalam jumlah cukup besar.
2. Cairan Ekstraseluler, cairan ini mengandung ion Natrium dan Klorida dalam jumlah besar, ion bikarbonat dalam jumlah besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion Kalium, Kalsium, Magnesium, Posfat, Sulfat,dan asam-asam organik (Guyton hal 309).
Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan / pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat. 
Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dibuatlah sediaan infuse pengganti cairan tubuh yaitu infuse Ringers. 
Injeksi Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium klorida dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang diperlukan tubuh (Ansel hal 408).



INFUS IV PROTEIN UNTUK DBD
Bilamana seorang penderita harus diberikan makanan yang memadai tetapi tidak dapat melalui saluran cerna. Indikasi cara ini biasanya digunakan untuk persiapan bedah pada penderita kurang gizi, persiapan kemoterapi radioterapi dan kelainan saluran cerna berat. Nutrisi parenteral total memerlukan larutan yang mengandung asam amino; glukosa; lemak; elektrolit; dan vitamin.
Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai, tapi bila tiap harinya diberikan lebih dari 180 g maka harus ada monitoring kadar gula darah. Bila mungkin diperlukan insulin. Glukosa dengan ragam kekuatan 10 – 50 % harus di infus melalui kateter vena central. Untuk menghindari trombosis (gumpalan darah yang terbentuk pembuluh darah). 
Jumlah volume infuse intravena biasanya 500 mL dan 250 mL mengandung zat-zat sebagai nutrisi, penambah darah, elektrolit, asam amino, antibiotik, dan obat yang umumnya diberikan lewat jarum yang dibiarkan di vena atau kateter dengan diteteskan terus menerus. Tetesan atau kecepatan mengalir dapat diatur oleh dokter atau perawat sesuai dengan kebutuhan pasien. Umumnya 2-3 mL permenit. 
Untuk Infus, intravena jarum/kateter biasanya ditusukkan divena yang menonjol di lengan atau kaki dan diikat erat di tempat tersebut sehingga tidak akan bergeser dari tempat selama diinfus. Bahaya utama infus intravena ialah kemungkinan terbentuknya trombus akibat rangsang tusukan jarum pada dinding vena. 
Trombus akan lebih mungkin terjadi bila larutan infus bersifat mengiritasi jaringan tubuh. Trombus adalah gumpalan darah yang terbentuk dalam pembuluh darah (atau jantung) yang umumnya disebabkan oleh melambatnya aliran atau perubahan darah atau pembuluh darah. Bila gumpalan darah itu beredar maka gumpalan tersebut menjadi embolus, dibawa oleh aliran darah sampai tersangkut di pembuluh darah, menghalangi dan mengakibatkan hambatan atau sumbatan yang disebut emboli. Suatu hambatan dapat sangat berbahaya tergantung pada tempat dan keparahan hambatan tersebut. Obat-obat yang diberikan lewat intravena biasanya harus berupa larutan air, bercampur dengan darah dan tidak mengendap. Keadaan tertentu dapat menimbulkan terjadinya trombus dan kemudian menghalangi aliran darah. (Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi keempat, Howard C Ansel, hal 402) 
Demam berdarah adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan virus Dengue tipe I-IV, disertai demam 5-7 hari gejala-gejala perdarahan, dan bila timbul syok: angka kematian cukup tinggi.
Gejala dan tanda :
1. panas 5-7 hari, gejala umum tidak khas 
2. perdarahan spontan (petekie, ekimosa, epistaksis , derajat hematemesis, melena, perdarahan gusi, uterus, telinga, dll) 
3. ada gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (> 120/menit), tekanan nadi sempit (<>
4. nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur, denyut jantung > 140/menit, acral dingin, berkeringat, kulit biru
Gejala Lain :
1. Hati membesar, nyeri spontan dan pada perabaan 
2. Asites 
3. Cairan dalam rongga pleura (kanan) 
4. Ensepalopati: kejang, gelisah, sopor, koma 
Prinsip penatalaksanaan :
1. Memperbaiki keadaan umum 
2. Mencegah keadaan yang lebih parah 
3. Memperbaiki syok dan perdarahan (pen: rehidrasi sampai hari ke 7, namun hati-hati pada hari ke 6 dapat terjadi arus balik cairan intersitiel ke pembuluh darah)

INFUS IV UNTUK MEMPERTAHANKAN KESEIMBANGAN ASAM TUBUH
Pembuatan infus ini mengacu pada penggunaannya sebagai cairan infus yang dapat menstabilkan jumlah elektrolit-elektrolit yang sama kadarnya dalam cairan fisiologis normal, sehingga diharapkan pasien dapat mempertahankan kondisi elektrolitnya agar sesuai dengan batas-batas atau jumlah elektrolit yang normal pada plasma. Selain itu, digunakan pengisotonis dekstrosa yang diharapkan mampu menambah kalori bagi pasien serta meningkatkan stamina karena biasanya kondisi pasien yang kekurangan elektrolit dalam keadaan lemas (sehingga perlu diinfus). 
Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.
Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis sel.
Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
Ion Magnesium (Mg2+) juga diperlukan tubuh untuk aktivitas neuromuskuler sebagai koenzim pada metabolisme karbohidrat dan protein.
Dekstrosa, suatu bentuk karbohidrat yang diberikan secara parenteral diharapkan dapat memberikan tambahan kalori yang diperlukan untuk menambah energi pada tubuh.
Batas konsentrasi normal elektrolit dalam plasma (Steril Dosage Form, hal 251-252) : 
Na+ = 135-145 mEq/L
K+ = 3,5-5 mEq/L
Ca2+ = 5 mEq/L
Mg2+ = 2 mEq/L
INFUS IV UNTUK PENGELOLAAN DEHIDRASI
Sekitar 60% berat badan manusia terdiri dari cairan. Setiap hari sekitar 1,7 liter cairan di dalam tubuh keluar melalui urin, tinja, keringat dan pernapasan. Cairan yang keluar tersebut akan digantikan oleh cairan yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman, yakni sebanyak 3 liter perhari. Jika cairan yang keluar dai tubuh terjadi secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan cairan yang masuk, maka terjadilah dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). 
Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh, karena terjadi pengeluaran yang lebih banyak daripada pemasukan. Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh. Zat eletrolit yang diperlukan tubuh terdiri dari anion dan kation antara lain Na+, K+, Ca2+, SO42-, dan Cl-.
Dehidrasi terdiri dari :
a. Absolut :Kandungan air dibawah normal atau dibawah standar.
b. Hypenatermic : Keadaan hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional dibandingkan dengan hilangnya air.
c. Relatif : Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan osmotik cairan tubuh.
d. Voluntari : Akibat dari rasa haus yang tidak merangsang penggantian air yang hilang dengan cukup.
INFUS MENGANDUNG KARBOHIDRAT
Karbohidrat merupakan bahan bakar utama (sumber energi) bagi tubuh yang didalam makanan terdapat sebagai monosakarida, disakarida dan polisakarida. Selain sumber energi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan asam-basa, pembentukan struktur sel, jaringan dan organ tubuh. Bilamana seorang penderita harus diberikan makanan yang memadai tetapi tidak dapat melalui saluran cerna atau mengalami gangguan saluran cerna seperti diare maka sumber energi utama yakni karbohidrat dapat diberikan melalui infus yang mengandung karbohdrat.
Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai dan salah satu senyawa yang penting didalam tubuh sebagai sumber energi.
INFUS Na BIKARBONAT UNTUK ASIDOSIS METABOLIK
Asidosis metabolic adalah suatu keadaan dimana pH arterial bersifat asam dan konsentrasi bikarbonat plasma dibawah normal. Pada asidosis metabolic akut, pH arterial dibawah 7,1-7,2 dan konsentrasi bikarbonat plasma, 
Farmakologi
Na.bikarbonat merupakan agen pengalkali yang berdisosiasi membentuk ion bikarbonat. Bikarbonat merupakan komponen basa konjugasi dari buffer ekstraseluler utama yang ada di tubuh,yaitu buffer bikarbonat-asam karbonat. Pada kondisi normal buffer ini menjaga pH plasma yaitu 7,37-7,42. Namun bila terjadi gangguan pada system buffer ini maka pH plasma dapat naik ataupun turun. pH plasma yang dibawah normal mengindikasikan terjadinya asidosis metabolic. Pemberian Na.bikarbonat akan menigkatkan konsentrasi bikarbonat plasma dan meningkatkan pH plasma sehingga pH plasma normal kembali (DI 2003 hal 2472-2473).
INFUS PROTEIN
Protein merupakan makromolekul yang pada hidrolisa hanya menghasilkan asam amino. Sel hidup menghasilkan berbagai macam makromolekul (protein, asam nukleat dan polisakarida) yang berfungsi sebagai komponen struktural, biokatalisator, hormon, reseptor dan sebagai tempat penyimpanan informasi genetik. Makromolekul ini merupakan biopolimer yang dibentuk dari unit monomer atau bahan pembangun. 
Asam amino dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Asam amino essensial yaitu asam amino yang diperlukan oleh tubuh tetapi tidak dapat disintesis dalam tubuh sehingga harus diperoleh dari luar. Contoh : Arginin, histidin, isoleusin, lisin, metionin, fenil alanin, treonin, triptofan, dan valin.
2. Asam amino non essensial yaitu asam amino yang dapat disintesa didalam tubuh. Contoh: Alanin, asparagin, asam aspartat, sistein, asam glutamate, glutamin, glisin, prolin, hidroksiprolin, serin, dan tirosin.
Arginin mempunyai fungsi yang sama seperti asam amino, yaitu meningkatkan stimulan hormon pertumbuhan, prolaktin, dan glukosa darah. Arginin dapat menambah konsentrasi glukosa darah. Efek ini dapat langsung berpengaruh dari hati menjadi asam amino yang berkualitas.(DI hal 1341)
INFUS IV DEKSTROSA
Farmakologi (DI, hal 1427)
Dekstrosa dengan mudah dimetabolisme, dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan menambah kalori. Dekstrosa dapat menurunkan atau mengurangi protein tubuh dan kehilangan nitrogen, meningkatkan pembentukan glikogen dan mengurangi atau mencegah ketosis jika diberikan dosis yang cukup. Dekstrosa dimetabolisme menjadi CO2 dan air, maka larutan dekstrosa dan air dapat mengganti cairan tubuh yang hilang. Injeksi dekstrosa dapat juga digunakan sebagai diuresis dan volume pemberian tergantung kondisi klinis pasien.
LARUTAN PENCUCI PADA OPERASI LAMBUNG
Larutan irigasi adalah larutan steril, bebas pyrogen yang digunakan untuk tujuan pencucian dan pembilasan. Sodium Klorida ( NaCl ) secara umum digunakan untuk irigasi ( seperti irigasi pada rongga tubuh, jaringan atau luka ). Larutan irigasi NaCl hipotonis 0,45% dapat digunakan sendiri atau tanpa penambahan bahan tambahan lain. Larutan irigasi NaCl 0,9% dapat digunakan untuk mengatasi iritasi pada luka. ( DI 2003 hal 2555 )
Larutan irigasi dimaksudkan untuk mencuci dan merendam luka atau lubang operasi, sterilisasi pada sediaan ini sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi dapat terjadi dengan mudah.( Ansel hal 399 )




INFUS PENDERITA DIARE BERAT
(LOCKE RINGER)
Locke – Ringer mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh yaitu elektrolit-elektrolit dan karbohidrat sesuai untuk penderita diare berat
Digunakan norit, yaitu untuk menyerap pirogen dan mengurangi kelebihan H2O2. Cara sterilisasi yang digunakan adalah dengan teknik otoklaf karena bahan-bahan yang digunakan tahan panas
Pembahasan : hipertonis (harap diperhatikan laju tetesan per menit)
INFUS UNTUK PENGELOLAAN METABOLIK ALKALOSIS
Alkalosis metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat. Alkaosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut)
Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bia kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.
Penyebab utama alkalosis metabolik :
1. Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat)
2. Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung
3. Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma cushing atau akibat penggunaan kortikosteroid).


Gejala :
1. Alkalosis metabolik dapat menyebabkan iritabilitas (mudah tersinggung), otot berkedut dan kejang otot, atau tanpa gejala sama sekali.
2. Bila terjadi alkalosis yang berat, dapat terjadi kontraksi (pengerutan) dan spasme (kejang) otot yang berkepanjangan (tetani).
3. Diagnosa dilakukan pemeriksaan darah arteri untuk menunjukkan darah dalam keadaan basa.
Pengobatan :
Biasanya alkalosis metabolik diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit (natrium dan kalium)
INFUS LARUTAN IRIGASI GLISIN
Larutan irigasi adalah sediaan larutan steril dalam jumlah besr. Larutan tidak disuntikkan ke dalam vena, tapi digunakan di luar sistem peredaran darah dan umumnya menggunakan jenis tutup yang diputar atau plastik yang dipatahkan, sehingga memungkinkan pengisian larutan dengan cepat. Larutan ini digunakan untuk merendam atau mencuci luka2. Sayatan bedah atau jaringan tubuh dan dapat pula mengurangi pendarahan.
Persyaratan larutan irigasi adalah sbb :
1. Isotonik
2. Steril
3. Tidak disbsorpsi
4. bukan larutan elektrolit
5. Tidak mengalami metabolisme 
6. Cepat diekskresi
7. Mempunyai tekanan osmotik diuretik
8. bebas pirogen
Larutan irigasi glisin digunakan selama operasi kelenjar prostat dan prosedur transuretral lainnya. Larutan yg digunakan untuk luka dan kateter uretra yg mengenai jaringan tubuh hrs disterilkan dgn cara aseptis.
INFUS IV YG MGD NUTRISI
Glukosa termasuk monosakarida dimana sebagian besar monosakarida dibawa oleh aliran darah ke hati. Di dalam hati, monosakarida mengalami proses sintetis menghasilkan glikogen, oksidasi menjadi CO2 dan H2O atau dilepaskan untuk dibawa dengan aliran darah ke bagian tubuh yg memerlukannya. Sebagian lain monosakarida dibawa langsung ke sel jaringan organ tertentu dan mengalami proses metabolisme lbh lanjut. Karena pengaruh berbagai faktor dan hormon insulin yg dihasilkan oleh kelnjar pankreas, hati dapat mengatur kadar glukosa dalam darah. Kadar glukosa dalam darah merupakan faktor yg sgt penting utk kelancaran kerja tubuh.
INFUS IV RINGER LAKTAT
Jika untuk mengatasi kondisi kekurangan volume darah, larutan natrium klorida 0,9% - 1,0% menjadi kehilangan maka secara terapeutik sebaiknya digunakan larutan ringer, larutan ini mengandung KCl dan CaCl2 disamping NaCl. Beberapa larutan modifikasi jg mengandung NaHCO3 maka larutan dapat disterilakan dengan panas yang stabil. Pengautoklafan larutan natrium hidrogen karbonat hanya diproses mempunyai penyaringan kuman.
Pembahasan : larutan ini bersifat hipertonis. Harap diperhatikan laju tetesan per menit. Laju tetesan maksimal 5 ml per menit
INFUS IV AMMONIUM KLORIDA
(PENDAHULUANNYA SAMA DENGAN ALKALOSIS METABOLIK)
Ammonium klorida digunakan sebagai z.a yang dapat berkhasiat untuk pengobatan gangguan metabolisme alkalosis dalam tubuh serta menggantikan ion klorida yang hilang dalam tubuh.
INFUS IV MENGANDUNG ELEKTROLIT DAN KARBOHIDRAT
Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat.

PREFORMULASI INFUS
Dekstrosa (glukosa)
(FI IV hal. 300, Martindale 28 hal. 50, DI hal. 1427, Excipient hal. 154)
Bobot molekul : D glukosa monohidrat 198,17
Rumus molekul : C6H12O16.H2O
Pemerian : Hablur tidak berwarna serbuk hablur atau serbuk granul putih, tidak berbau rasa manis.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, larut dalam etanol mendidih, sedikit larut dalam alkohol
E NaCl : 0,16 ( Sprowls hal: 187)
L : 1,9
Konsentrasi : 2,5-11,5% untuk IV (DI 2003 hal 2505). 0,5-0,8 g/kg/jam (DI hal 1427-1429). Untuk hipoglikemia 20-50 ml (konsentrasi 50%)
Khasiat : Sebagai sumber kalori dan zat pengisotonis
Osmolaritas : 5,51% w/v larutan air sudah isotonis dengan serum
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan, dekstrosa stabil dalam keadaan penyimpanan yang kering, dengan pemanasan tinggi dapat menyebabkan reduksi pH dan karamelisasi dalam larutan 
OTT : Sianokobalamin, kanamisin SO4, novobiosin Na dan wafarin Na,Eritromisin, Vit B komplek 
( martindale 28 hal: 21)
Sterilisasi : autoklaf
PH : 3,5 – 6,5 (dalam 20%w/v larutan air)
Efek samping : Larutan glukosa hipertonik dapat menyebabkan sakit pada tempat pemberian (lokal), tromboklebitise, larutan glukose untuk infus dapat menyebabkan gangguan cairan dan elektrolit termasuk edema, hipokalemia, hipopostemia, hipomagnesia. 
Kontraindikasi : Pada pasien anuria, intrakranial atau intraspiral hemorage
Titik lebur : 83OC 
NaCl (Natrium klorida)
(FI IV hal. 584, Martindale 28 hal. 635, Excipient hal. 440)
Rumus molekul : NaCl
Bobot molekul : 58,44
Pemerian : Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk kristal putih, tiap 1g setara dengan 17,1 mmol NaCl. 
2,54g NaCl ekivalen dengan 1 g Na
Kelarutan : 1 bagian larut dalam 3 bagian air, 10 bagian gliserol
Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi (Martindale 28 hal: 635)
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas
pH : 4,5 –7(DI 2003 hal 1415) 6,7-7,3 ( Excipient hal 672)
OTT : logam Ag, Hg, Fe
E NaCl : 1 (Sprowls hal 189)
Kesetaraan E elektrolit : 1 g ≈ 17,1 mEq
Konsentrasi/dosis : lebih dari 0,9% (Excipient hal 440). Injeksi IV 3-5% dalam 100ml selama 1 jam (DI 2003 hal 1415). Injeksi NaCl mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na+ dalam plasma = 135-145 mEq/L ( steril dosage form hal 251 )
Khasiat/kegunaan : Pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh
Efek samping : Keracunan NaCl disebabkan oleh induksi yang gagal dapat menyebabkan hipernatremia yang memicu terjadinya trombosit dan hemorrage. Efek samping yang sering terjadi nausea, mual, diare, kram usus, haus, menurunkan salivasi dan lakrimasi, berkeringat, demam, hipertensi, takikardi, gagal ginjal, sakit kepala, lemas, kejang, koma dan kematian.
Kontraindikasi : Untuk pasien penyakit hati perifer udem atau pulmonali udem, kelainan fungsi ginjal.
Farmakologi : berfungsi untuk mengatur distribusi air, cairan dan keseimbangan elektrolit dan tekanan osmotik cairan tubuh.
Aqua Pro Injeksi 
(FI IV hal 112, FI III hal 97)
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau 
Sterilisasi : Kalor basah (autoklaf)
Kegunaan : Pembawa dan melarutkan 
Alasan pemilihan : Karena digunakan untuk melarutkan zat aktif dan zat-zat tambahan
Cara pembuatan : didihkan aqua dan diamkan selama 30 menit, dinginkan
H2O2 (Hidrogen peroksida) 
(FI IV hal. 438, Martindale 28 hal. 1232)
Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna, bereaksi asam terhadap lakmus, terurai secara perlahan dan dipengaruhi oleh cahaya
Konsentrasi : 0,1%
Stabilitas : stabil dengan penambahan pengawet 0,05%
OTT : zat pereduksi dan zat pengoksidasi
Kegunaan : Untuk membebaskan aqua pro injeksi dari pirogen atau depirogenisasi.
Alasan pemilihan : Untuk membantu pembebasan sediaan dari pirogen.
Norit 
(FI IV hal. 1169, Martindale hal. 79)
Pemerian : Serbuk hitam tidak berbau
Kelarutan : praktis tidak larut dalam suasana pelarut biasa
Stabilitas : stabil ditempat yang tertutup dan kedap udara 
Kegunaan : Untuk kelebihan H2O2 dalam sediaan
Konsentrasi : 0,1-0,3%
Alasan pemilihan : Norit inert sehingga tidak bereaksi dengan zat aktif.

Kalsium glukonat
(FI IV hal. 161)
Pemerian : Hablur, granul atau serbuk putih; tidak berbau; tidak berasa. Stabil di udara 
Kelarutan : Agak sukar (dan lambat) larut dalam air; mudah larut dalam air mendidih, tidak larut dalam etanol. Larutan bersifat netral terhadap lakmus
Stabilitas : Injeksi kalsium OTT dengan larutan infus IV yang terdiri dari bermacam-macam obat (DI hal. 1399)
Khasiat : Untuk pengobatan hipokalsemia tetani 
(DI hal. 1399)
Dosis : Kebutuhan tubuh 4,5-5,5 mEq kalsium per hari.
1 g Ca. Glukonat monohidrat ~ 4,5 mEq calcium
( Martindale 28 hal.623)
pH : 6-8,2 (DI hal.1399)
OTT : Oxidating agent, sitrat, phospat, dan sulfat
(Martindale 28 hal. 622)
E NaCl : 0,18 (FI IV Hal. 1246)
Efek Samping : Mual, muntah, vasodilatasi perifer, berkeringat, hipotensi, hiperkalsemia, konstipasi
(Martindale 28 hal.62)
Kontraindikasi : Perhatian serius pada ketidakseimbangan fungsi renal (Martindale 28 hal.620)
Sterilisasi : Autoklaf ( Martindale 28 hal 622)
Dextran 70 
(DI 2003 hal. 2489; Martindale hal. 955; FI IV hal. 296 )
Pemerian : Serbuk amorf, warna putih sampai putih kekuningan; tidak berbau dan tidak berasa; higroskopis.
Kelarutan : Mudah larut dalam air panas; larut secara bertahap dalam air; praktis tidak larut dalam etanol dan dalam eter.
Dosis : Total dosis dari 6% larutan yang ditujukan untuk dewasa dan anak selama 24 jam pertama tidak lebih dari 1,2 g/kg (20 mL/kg); bila terapi berlanjut lebih dari 24 jam, dosis tidak lebih dari 0,6 g/kg (10 mL/kg) dalam sehari. Untuk dewasa, dosis yang biasa diberikan 30 g (500 mL). Pada situasi emergensi, dextran 70 dapat diberikan pada dewasa dengan kecepatan 1,2-2,4 g (20-40 mL) per menit. Pada pasien normovolemik, kecepatan infus tidak lebih dari 0,24 g (4 mL) per menit. (DI 2003 hal 2489)
Rute pemberian : intravena
pH : 3-7
Stabilitas : Larutan dextran jika disimpan dalam jangka waktu yang lama atau pada temperatur yang bervariasi, maka akan terbentuk kristal dextran pada larutan. Kristal tersebut dapat larut kembali dengan pemanasan pada WB suhu 1000C atau dengan autoklaf pada 1100C selama 15 menit. Larutan dextran harus disimpan pada temperatur konstan yaitu 250C.
Kegunaan : Cairan pengganti darah dan penambah volume plasma untuk mengatasi syok ketika produksi darah lengkap manusia tidak mencukupi, dan pada kondisi syok hipovolemik.
OTT : Mungkin timbul dari pH asam selama preparasi dextran 70.
Sterilisasi : sterilisasi akhir (autoklaf pada suhu 1150-1160 selama 30 menit.
Farmakologi : Dextran 70 menyerupai sediaan steril albumin serum.
CaCl2 
(DI 88 hal. 1398; FI IV hal. 160, Martindale 28 hal. 621)
Pemerian : Granul atau serpihan, putih, keras, tidak berbau.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol, dan dalam etanol mendidih, sangat mudah larut dalam air panas.
pH : 4,5 – 9,2 (5% larutan air)
OTT : karbonat, fosfat, sulfat, tartrat, sefalotin sodium, CTM dengan tetrasiklin membentuk kompleks
Stabilitas : Injeksi kalsium dilaporkan inkompatibel dengan larutan IV yang mengandung banyak zat aktif.
Kegunaan : Untuk mempertahankan elektrolit tubuh, untuk hipokalemia, sebagai elektrolit yang esensial bagi tubuh untuk mencegah kekurangan ion kalsium yang menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
Sterilisasi : autoklaf
Kesetaraan equivalent elektroit :
1 g CaCl2 ≈13,6 mEq Ca++
Ekuivalensi : 0,51 ( Sprowls hal 187)
Farmakologi : penting untuk fungsi integritas dari saraf musular, sistem skeletal, membran sel dan permeabilitas kapiler ( DI hal 1398)
KCl 
(DI 88 hal. 1410; Excipient hal 385, FI IV hal. 477)
Pemerian : Kristal atau serbuk kristal putih atau tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa atau berasa asin
.
Kelarutan : Larut dalam air, sangat mudah larut dalam air panas, praktis tidak larut dalam eter, etanol dan alkohol.
pH : 4-8
konsentrasi : 2,5-11,5%
dosis : konsentrasi kalium pada rute iv tidak lebih dari 40 mEq/L dengan kecepatan 20 mEq/jam ( untuk hipokalemia). Untuk mempertahankan konsentrasi kalium pada plasma 4 mEq/L ( DI 2003 hal 1410). K+ dalam plasma = 3,5-5 mEq/L ( steril dosage form hal 251)
Stabilitas : Stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, ditempat sejuk dan kering.
Kegunaan : Biasa digunakan dalam sediaan parenteral sebagai senyawa pengisotonis.
OTT : Larutan KCl IV inkompatibel dengan protein hidrosilat, perak dan garam merkuri.
Sterilisasi : Dengan otoklaf atau filtrasi.
Kesetaraan equivalent elektrolit :
1 g KCl ≈ 13,4 mEq K+
Ekuivalen : 0,76 ( Sprowls hal 189)
Arginin HCl 
(Remington hal. 1690, DI 88 hal. 1314, Martindale 28 hal. 49)
Pemerian : Kristal putih atau serbuk kristal, praktis tidak berbau.
Kelarutan : Larut dalam air (1 g dalam 5 mL) , agak larut dalam alkohol Panas
Indikasi : Penanganan gejala dari encephalopathie parah yang berasosiasi dengan amoniakal azotemia dapat meningkatkan keadaan klinis dari pasien. Arginin digunakan sebagai suplemen nutrisi dalam kondisi dimana karakter dibasic amino atau dapat mengurangi kadar amonia dalam darah (pada pasien Hiperammonia). Arginin sebagai prekursor seharusnya digunakan hati-hati.
Kontraindikasi : Arginin harus diberikan hati-hati pada pasien dengan gangguan elektrolit karena dapat mendorong kearah pengembangan hyperchloraemic acidosis. Tidak boleh diberikan pada penderita ginjal atau anuria.
pH : dalam larutan 9,5 – 10 % pHnya 5-5,5
Dosis : 25 g atau 500mg/kg BB dalam 500-1000 ml ( Martindale hal 49 )
OTT : medroksi progesteron asetat, xylitol, aminofilin, sulfenil urea
Stabilitas : stabil dalm suhu kamar
Sterilisasi : filtrasi atau autoklaf
PH : 5 - 6,5
Ekivalen : 0,475 mEq
Penyimpanan : disimpan pada suhu kamar, hindari dari pemanasan dan pembekuan.
Na Bikarbonat
Pemerian ; Serbuk kristal putih, berbau lemah, berasa asin
Kelarutan ; 1 bagian larut dalam 11 bagian air, praktis tidak larut dalam alkohol dan eter 
pH ; tidak lebih dari 8,6 (larutan 5% dalam air)
OTT ; Asam, garam asam, dopamine HCL, Pentazosin laktat, garam alkaloid, bismuth salisilat.
Sterilisasi ; Otoklaf atau filtrasi
Khasiat ; Pengobatan asidosis metabolic akut
Dosis ; Untuk dewasa 2-5 mEq/kg selama 4-8 jam (DI 88 hal 1388)
E NaCl ; 0,65 (Sprowis hal 189)
Stabilitas ; Injeksi disimpan pada suhu dibawah 40°C, tapi lebih baik disimpan 15-30ºC dan harus terlindung dari pembekuan.
MgCl2 
(Martindale 28 hal. 625)
Pemerian : Tidak berwarna, tidak berbau, kristal higroskopik dengan sedikit rasa pahit.
Kelarutan : 1 bag Larut dalam 1 bagian air; dalam 2 bagian etanol.
Dosis : Mg2+ dalam plasma = 2 mEq/L (Steril dossage Form hal 251)
PH : 4,8 – 7 (5 % dalam air).
Stabilitas : Jika dipanaskan 100 °C akan kehilangan 2 molekul dari kristalnya dan pada suhu 110 °C mulai kehilangan hidrogenklorida membentuk garam.
Sterilisasi : Dengan otoklaf atau filtrasi.
Kegunaan : Sebagai sumber ion magnesium, untuk aktivitas neuromuskuler sebagai koenzim pada metabolisme karbohidrat dan protein.
Kandungan : 9,8 mEq pergram (Martindale 28 hal 625)
Ekivalensi : 0,45 (Sprowls hal 188)
Vitamin C 
(FI IV hal. 39, DI 2003 hal. 2108, Martindale 35 hal. 1653, Excipient hal. 21)
Pemerian : Hablur, serbuk putih atau agak kuning
Kelarutan : Agak sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform, eter dan benzen
Stabilitas : dalam bentuk serbuk asam askorbat relatif stabil di udara dan stabil terhadap pemanasan. Tidak stabil dalam larutan terutama larutan alkalis. Larutan asam askorbat stabil pada pH maksimum 6-6,5
pH : 5,5-7
Khasiat : Antioksidan dan untuk defisiensi vitamin C
Dosis : 100-250mg/hari (DI 2003 hal. 2108), 0,01-0,1% (Excipient hal. 21)
OTT : Dengan larutan alkalis, logam berat dan bahan pengoksidasi fenileferin HCl, pirilamin maleat, salisilamid, NaNO3, Na salisilat, teobromin salisilat
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat dan tdak tembus cahaya
Ammonium Klorida 
(FI IV hal. 94, Martindale 28 hal. 686, DI 2003 hal. 1384)
Pemerian : hablur tidak berwarna atau serbuk halus atau kasar berwarna putih, rasa asin dan agak dingin, hidroskopik
Kelarutan : 1 g zat larut dalam 2,7 ml air, 1 g zat larut dalam 1,4 ml air hangat, 1 g zat larut dalam 100 ml alkohol, 1 g zat larut dalam 8 ml gliserol. 0,8% larutan isoosmotik dengan serum (Martindale 28 hal. 686) 
Khasiat : Untuk pengobatan alkalosis metabolik yang berat
Dosis : Untuk iv 500ml dari 2% larutan setiap 3 jam
OTT : dengan alkali karbonat dari alkali tanah dan garam perak
Stabilitas : amonium klorida untuk konsentrasi injeksi harus disimpan pada temperatur 40oC atau kurang dari 40oC. Hindari dari pembekuan. Konsentrasi larutan bisa mengkristal pada suhu rendah. Jika serbuk mengkristal, larutan injeksi harus dipanaskan di WB dengan temperatur kamar (DI 2003 hal. 1384)
Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi
pH : 4,6 – 6 (Martindale 28 hal. 686)
penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup rapat 
Glisin 
(Martindale 28 hal. 1786, DI 2003 hal. 1477)
Pemerian : serbuk kristal, putih, tidak berbau, rasa agak manis, beraksi asam dengan lakmus 
Kelarutan : mudah larut dalam air, sangat sukar larut dalam eter dan etanol. 5% larutan dalam air mempunyai pH 5,9 – 6,4
Khasiat : sebagai larutan irigasi, urogenital selama operasi terutama pada proses penanganan transuretral prostat.
Dosis : 15 mg /ml
Stabilitas : stabil jika disimpan dalam suhu kurang dari 40oC, tidak boleh lebih dari 60oC (DI 2003 hal. 1477)
pH : 4,5 – 6,5
penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
sterilisasi : filtrasi
Na Laktat
(DI 2003 hal. 2474)
Ekivalensi : 0,55 (Sprowls hal. 189)
Latar belakang :
- Na laktat sebagai zat aktif dimana zat aktif ini merupakan agen pengalkali yang digunakan sebagai sumber bikarbonat untuk pencegahan dan pengobatan asidosis metabolic ringan hingga sedang
- Tidak ditambah zat pengisotonis karena didapat larutan hipertonis dengan catatan laju tetesan tidak lebih dari 200ml per jam (DI 2003 hal. 2474) 

FORMULA INFUS
Infus iv glukosa NaCl (pengganti cairan tubuh, infus mengandung karbohidrat)
Glukosa 5%
NaCl q.s
Aqua p.i ad 500 ml
Perhitungan Tonisitas
Þ Perhitungan ekivalensi NaCl
E = 17 x L 
M
E = 17 x 1,9
198,17
E = 0,163
Tonisitas
Glukosa = 5 % x 0,0163 = 0.815 %
NaCl = a x 1 = a 
0,9 % (isotonis)
a = 0,085 %
Formula jadi
Glukosa 5 %
NaCl 0,085 %
Aqua p.i ad 500 ml
Dibuat 2 botol infus @ 500 ml, total volume infus 1000 ml
Glukosa = 5 % x 1000 = 50 g
NaCl = 0,085 % x 1000 = 0,85 g
Volume = 1000 ml + ( 10 % x 1000 )
= 1100 ml
Glukosa = 1100 x 50 g + 5 % x 1100 x 50 g 1000 1000
= 57,75 g
NaCl 
= 1100 x 0,85 g + 5 % x 1100 x 0,85 g 
1000 1000
= 0,98175 g
Norit = 0,1 % x 1100 = 1,1 g
H2O2 = 0,1 % x 1100 = 1,1 g 
Tiap 500 ml mengandung 
Glukosa 25 g
NaCl 0,425 g
Aqua p.i ad 500 ml
Infus Uiv ntuk penderita diare berat
Locke Ringer
Formula dasar (FI IV hal 1175)
NaCl 9,0 g
KCl 0,42 g
CaCl2 0,24 g
MgCl2 0,2 g
NaHCO3 0,5 g
Dekstrosa 0,5 g
Agua p.i ad. 1000ml
Formula jadi : ad. 500ml (ambil ½ nya)
Latar belakang :
- Locke – Ringer mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh yaitu elektrolit-elektrolit dan karbohidrat sesuai untuk penderita diare berat
- Digunakan norit, yaitu untuk menyerap pirogen dan mengurangi kelebihan H2O2 
- Cara sterilisasi yang digunakan adalah dengan teknik otoklaf karena bahan-bahan yang digunakan tahan panas
Perhitungan tonisitas:
v = Σ (w x E) x 111,1
= [(4,5 x 1) + (0,21 x 0,76) + (0,12 x 0,51) + (0,50 x 0,16) + (0,25 x 0,65)] x 111,1
= 551,4226 mL
% tonisitas = 551,4226/500 x 0,9 = 0,993 %
Injeksi iv mengandung glukonat
formula 
Ca glukonat 5 meq /l ( steril DF hal 248) 
NaCl q.s
Aqua PI ad 500 ml 
Latarbelakang 
Ca glukonat untuk memenuhi kebutuhan Ca tubuh 
NaCl untuk membuat larutan isotonis 
Pembuatan : otoklaf 
Spesifik : 1 g Ca glukonat 4,5 mEq Ca ( DI 88 hal 1401)
Kebutuhan tubuh 4,5-5,5 mEq kalsium perhari
Dipilih dosis 4,5 mEq 
1 g Ca. glukonat (monohidrat) ~ 4,5 mEq kalsium
Dikonversi menjadi :
4,5 mEq x 1 g = 1 g
4,5 mEq
Maka, formula menjadi :
Ca glukonat 1 g
Aqua pro injeksi ad 1000 mL
Tonisitas
E NaCl = 0,18
Ca glukonat 1g → 1 g/100 mL = 0,1 %
0,1 % x 0,18 = 0,018 % (hipotonis)
Pengisotonis (NaCl) = 0,9 % – 0,018 % = 0,882 %
Maka, NaCl yang dibutuhkan:
0,882 % x 100 mL/ 1000 mL = 8,82 g
Maka, formula menjadi :
Ca glukonat 1 g
NaCl 8,82 g
Aqua pro injeksi ad 1000 mL
Perhitungan lihat di infus lain!!!!!
Injeksi iv glukosa 10%
Formula 
Glukosa 10%
NaCl q.s
Aqua p.i ad. 500ml
Latar belakang
- Glukosa sebagai zat aktif untuk menambah energy pada pasien yang kehilangan banyak cairan tubuh karena diare berat, hipoglikemik, dehidrasi
- Pembuatan : Sterilisasi akhir (otoklaf 121OC, 15 menit)
Tonisitas:
Lihat infus lain!!!
Perhitungan:
Lihat infus lain!!!!
Infus iv ammonium klorida
(Alkalosis metabolik)
Tiap 100 ml mengandung (Martindale hal 1085)
Ammonium klorida 1%
(pemilihannya tergantung kondisi pasien sesuaikan dengan pendahuluan)
Aqua pi ad 100 ml
Sterilisasi : otoklaf
Latar belakang: 
o Pada formula ini digunakan zat aktif tersebut karena pada penyakit alkalosis metabolik terjadi kelebihan basa. Oleh karena itu kelompok kami memilih zat aktif tersebut untuk mengembalikan suasana kelebihan basa menjadi netral, infus ini dapat juga untuk cairan pengganti elektrolit.
o Pada formula ini juga ditambahkan zat aktif ammonium klorida karena biasanya orang atau pasien yang datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi yang parah penyakit alkalosisnya yang ditandai dengan spasme dan kontraksi otot yang berkepanjangan (kejang) dan pada kondisi yang sudah parah segera diberikan ammonium klorida untuk menetralkan keadaan darah yang kelebihan basa.
o Pada formula ini digunakan aqua pro injeksi sebagai pelarut.
o Pada formula ini dari perhitungan tonisitas ternyata infus yang kami buat ini hipertonis. Oleh karena itu perlu diperhatikan tetesan tiap menitnya agar infus menjadi isotonis. Perlu diingat bahwa infus yang isotonis tetesan per menitnya adalah 2 ml per menit. Maka pada pemakaiannya infus ini diusahakan tetesan per menitnya kurang dari 2 ml.
o Pada formula ini dibuat 1 botol 100 ml karena hanya untuk pengelolaan alkalosis metabolik 
o Pada formula ini infus diberikan secara intravena untuk segera dapat memberikan efek.
o Pada formula ini digunakan H2O2 untuk menghilangkan pirogen yang terdapat pada air untuk injeksi sedangkan norit digunakan untuk menghilangkan pirogen dari botol infus.
Perhitungan dan Penimbangan
Kesetaraan equivalent elektrolit
1 g NH4Cl ≈ 18,69 mEq Cl E3 = 1,12
NH4Cl : 2% x 100 ml = 2 g
Perhitungan tonisitas
V = [(W x E)] x 111,11
= [ (2 x 1,12)] x 111,11
= 248,8864 ml
% Tonisitas = Z ml / 100 ml x 0,9 %
= 248,8864 ml / 100 ml x 0,9 %
= 2,240 %
Kesimpulan :
Larutan infus ini hipertonis maka perlu diperhatikan tetesan per menitnya isotonis (0,9%) tetesan per menit = 2 ml / menit
Hipertonis (3,15%) maka tetesan permenitnya 
= 0,9%/2,240% x 2 ml = 0,8036 ml
INFUS IV RINGER LAKTAT (Na laktat)
Infus intravena Na laktat, misal 2 botol
Formula dasar (DI 2003 hal 2474)
Na laktat 50 mEq
Aqua pi ad 300 ml
Formula jadi 
(Sterilisasi akhir dengan otoklaf 121oC 15 menit)
Na laktat 83,33 mEq
Aqua pi ad 500 ml
Perhitungan
1 g Na laktat ~ 8,9 mEq Na laktat
(Martindale 28 hal 640)
83,3 mEq x 1 g = 9,36 g
8,9 mEq
E NaCl Na laktat = 0,55 (Sprowls hal 189)
V = (W x E) x 111,1
= (9,36 x 0,55) x 111,1 = 571,94 ml
% tonisitas = 571,94 ml x 0,9 % 
500 ml
= 1,029%(hipertonis)
Maka di etiket ditulis:
Larutan ini bersifat hipertonis. Harap diperhatikan laju tetesan per meit, laju tetesan maksimal 5 ml/ menit
Penimbangan:
V = (v x n) + 10 % (vx n )
= (2 x 500) + 10 % (2 x 500) 
= 1100 ml
Latar belakang
- Na laktat sebaga zat aktif dimana zat ini merupakan agen pengalkali yang digunakan sebagai sumber bikarbonat untuk pencegahan dan pengobatan asidosis metabolik ringan – seddang
- Tidak ditambah zat pengisotonis karena didapat larutan hipertonis dengan catatan laju tetesan tidak lebih dari 300 ml/jam (DI 2003 hal 2474)
- H2O2 untuk menghilangkan pirogen pada aqua pi karena injeksi vol. 10 ml harus bebas pirogen
- Norit untuk menghilangkan pirogen pada larutan obat
INFUS IVPROTEIN
Formula jadi 
Dosis : 5-10 % dalam air
Tiap botol mengandung (500 ml) :(Martindale P 49)
Arginin Hidroksida 5%
NaCl qs
Aqua p.i ad 100 ml
Alasan pemilihan formula: : takut hiperproteinemia
• Protein merupakan makromolekul, dimana monomernya adalah asam amino. Dipilih asam amino Arginin HCl karena merupakan salah satu asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh..
• Walaupun pada sediaan infus ini tidak mengandung pengawet, uji sterilisasinya dilakukan secara filtrasi karena volumenya yang besar sehingga tidak memungkinkan untuk di inokulasi langsung.
Indikasi : pengobatan hyperammonaemia
Perhitungan Tonisitas
E arginin HCl = 17 L / M 
L = ptb molal
M= BM Arginin
E = 17 x ( 1,9/ 210,7)
= 0,15
Arginin untuk 1 L = 40g
Hitung tonisitas: lihat di infuse lain!!!!
Perhitungan, lihat di infuse lain!!!
INFUS MEMPERTAHANKAN KESEIMBANGAN ION / ELEKTROLIT / DEHIDRASI
Formula Dasar: berdasarkan buku Steril Dossage Form hal 253-254, dilihat dari kandungan atau konsentrasi ion-ion (elektrolit) yang normal pada plasma.
Tiap Liter mengandung :
NaCl 135-145 mEq
KCl 3,5-5,0 mEq
CaCl2 5 mEq
MgCl2 2 mEq
Sehingga di buat infus dengan formula yang dipilih:
NaCl 70 mEq
KCl 2 mEq
CaCl2 2,5 mEq
MgCl2 1 mEq
Dekstrosa qs (ad isotonis)
Aqua pi ad 500 ml
Penimbangan (setiap 1 L)
NaCl = 2 x 70 mEq x 1g = 8,187 g
17,1 mEq
KCl = 2 x 2 mEq x 1g = 0,2985 g
13,4 mEq
CaCl2 = 2 x 2,5 mEq x 1g = 0,367 g
13,6 mEq
MgCl2 = 2 x 1 mEq x 1g = 0,204 g
9,8 mEq
V = {( W1 x E1 )+( W2 x E2 )+( W3 x E3 )+( W4 x E4 )} x 111,11
1100 = {( 9,006 x 1,0 )+( 0,328 x 0,76 )+( 0,4037 x 0,51 )+( 0,224 x 0,45 )+ (0,18 x W5)} x 111,11
1100 = {( 9,006 + 0,2493 + 0,206 + 0,1008 ) + (0,18 x W5) } x 111,11
1100 = {9,5621 + (0,18 x W5) } x 111,11
1100 = 1062,445 + 19,9998 x W5
37,555 = 19,9998 x W5
W5 = 1,8777 g
W5 = Dekstrosa yang dibutuhkan agar infus isotonis (0,9%)
% isotonis setelah penambahan dekstrosa = 0,9 %
Kandungan dekstrosa setiap botol infus 
= 500/1100 x 1,8777 g = 0,8535 g ~ 0,854 g
INFUS iv DEKSTROSA NaCL
Rencana formula
Dekstrosa 5 %
NaCl q.s
Aqua p.i ad 500 ml
Perhitungan tonisitas:lihat tonisitas yang lain:
Latar Belakang Penetapan Formula
1. Dosis Dekstrosa untuk injeksi IV adalah 5% dan berfungsi sebagai penambah / pelengkap cairan tubuh.
2. NaCl digunakan sebagai larutan pengisotonis agar sediaan infus setara dengan 0,9% larutan NaCl, dimana larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan cairan tubuh.
3. Tidak digunakan pengawet karena berdasarkan literatur (DI 88 hal. 1427) karena sediaan infus yang dibuat merupakan tekanan tunggal sehingga kemungkinan terjadinya kontaminasinya mikroba sangat kecil.
INFUS IV MENGANDUNG NUTRISI
Formula:
Glucosa 5%
Arginin HCl qs
Vitamin C qs
Aqua.p.i ad 500 ml
Hitung tonisisitas!!!
INJEKSI LARUTAN GLISIN
Formula Dasar (DI hal 2556)
Glisin 15mg/ml
Aqua pi ad 500 ml
Formula jadi
Glisin 15 mg/ml
NaCl qs
Aqua pi ad 500 ml
Infuse iv glisin ( asupan protein)
(yuki punya)
Glisin 1,5 % ( martin 28 hal 53)
Aqua pi ad 500 ml
Pembuatan : otoklaf 121 ®c 15
HITUNG TONISISTAS!!!

INFUS IV NaCL
Formula:
NaCl 0,9%
Aqua pi ad 500 ml
INFUS IV MENGANDUNG ELEKTROLIT DAN KARBOHIDRAT
Formula jadi :
Dekstrosa 5 % ( DI p. 2505 )
NaCl qs
Aqua pi ad 500 ml
Perhitungan tonisitas
E dekstrosa = 5 % x 0,16 = 0,8 %
NaCl yang dibutuhkan = 0,9 % - 0,8 % = 0,1 %
g NaCl = 0,1 g /100ml x 500 ml = 0,5 g
Rute = iv
Sterilisasi = autoklaf 121 ºC, 15 menit
INFUS UNTUK PENGELOLAAN METABOLIK ASIDOSIS (Na bikarbonat)
Formula :
Na Bikarbonat 5 mEq/kg BB
Aqua pi ad 500 ml
Latar Belakang :
Na. Bikarbonat dipilih sebagai zat aktif dimana Na.bikarbonat merupakan agen pengalkali yang menghasilkan ion bikarbonat untuk pengobatan asidosis metabolit akut.
H2O2 untuk menghilangkan pirogen pada aqua pi sehingga diperoleh aqua bebas pirogen karena injeksi yang dibuat dengan volume lebih dari 10 ml harus bebas pirogen.
Norit digunakan untuk menghilangkan pirogen pada larutan obat karena injeksi yang bervolume besar harus bebas pirogen.
Perhitungan Dosis Infus Na bikarbonat
Dosis = 5 mEq / Kg BB (DI 2003 halaman 2472)
Sehingga dosis= 5 mEq 
----------- x 50 Kg = 250 mEq
1 kg
Dosis (mEq) Yang diperoleh kurang lebih memenuhi untuk dosis pengobatan asidosis metaolik akut , dimana pemberian Na.bikarbonat utnuk asidosis metabolic akut yang konsentrasi nya serum bikarbonat ≤ 8 mEq/ L (DI 2003 hal 2471)
- Rentang ion bikarbonat normal pada orang dewasa 26-30 mEq steril sossage Form Hal 248)
- Rumus dosis mEq Na bikarbonat ( DI 2003 hal 2472)
- MEq NaHCO3 = 0,3 x 50 kg x ( 26-8) mEq/L
= 270 mEq
Dosis 250 mE kurang lebih memenuhi dosis pengobatan asidosis metabolik akut yang tertera pada mertindale 28 hal 634 yang sampI DENGAN 4,2% ( 0,5 % mmol / ml) dimana:
1g Na. Bikarbonat setara dengan 12 mEq ion Na dan bikarbat (Handbook injectable hal 1165)
Bobot Na bikarbonat 
= 250 mEq
-------------- x 1 g = 20,83 g
12 mEq
Jadi dosis = 20,83 NHCO3/ 500 ml
= 4,167 g NaHCO3 / 100 ml
= 4,167 % NaHCO3
INFUS YANG MENGANDUNG NA, K, Ca, dekstrosa
Formula ( Formularium nasional edisi II 1978 hal 203 )
Tiap 500 ml mengandung :
NaCl 4,3 g
KCl 150 g
CaCl2 2,4 g
Aqua pi ad 500 ml
Rancangan formula
Tiap 500 ml mengandung :
NaCl 7,018 g
KCl 0,149 g
CaCl2 0,147 g
Dekstrosa 11,218 g
Aqua pi ad 500 ml
Latar belakang pemilihan formula
1. Dekstrosa digunakan sebagai pengisotonis karena syarat infus yaitu larutan harus isotonis. Dekstrosa dikhususkan untuk sediaan parenteral sedangakan glukosa cair tidak cocok untuk sediaan parenteral.
2. Aqua pro injeksi digunakan sebagai pelarut dan pembawa karena bahan-bahan larut dalam air.
3. Kalium merupakan kation utama dalam cairan intraseluler dan lebih penting dalam mengatur keseimbangan asam basa, tonisitas dan elektrodinersitas. Untuk menggantikan kalium yang hilang digunakan KCl yang lebih mudah larut dalam air.
4. Kalsium merupakan kation yang penting sebagai aktivator dan berbagai macam reaksi enzimatis, dipakai dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah larut dalam air.
5. Norit digunakan untuk menyerap bahan-bahan pengotor yang mungkin ada.
6. H2O2 digunakan untuk membebaskan pirogen dalam sediaan infus karena syarat untuk sediaan infus harus bebas pirogen.
7. Natrium merupakan kation mayor dalam cairan ekstraseluler. Fungsinya adalah pengontrol distribusi air, cairan keseimbangan elektrolit dan tekanan osmotik dari cairan tubuh. NaCl digunakan karena larut dalam air dan digunakan sebagai natrium yang hilang
Penimbangan
NaCl : 120 mEq x 1g = 7,018 g
17,1 mEq
KCl : 2 mEq x 1g = 0,149 g
13,4 mEq
CaCl2 : 2 mEq x 1g = 0,147 g
13,6 mEq 
Perhitungan isotonis
V = {( W1 x E1 ) + ( W2 x E2 ) + ( W3 x E3 )} x 111,1
= {(7,018 x 1) + (0,149 x 0,76) + (0,147 x 0,51)} x 111,1
= 800,57 ml
% Tonisitas = 800,57 ml x 0,9 %
1000 ml
= 0,72 %
Dekstrosa yang dibutuhkan agar infus isotonis :
V = 800,57 + ( 0,16 x W5 ) x 111,1
1000 = 800,57 – 17,7776 W5
199,43 = 17,7776 W5
W5 = 11,218 g
LARUTAN PENCUCI PADA OPERASI LAMBUNG
Rencara formula :
Formula I : NaCl fisiologis ( DI 2003 hal 2555 )
Formula II : Air steril pro injeksi (DI 2003 hal 2555 )
Formula III : Ringer ( DI 2003 hal 2556 ), isinya :
- NaCl 8,6 g
- KCl 0,3 g
- CaCl2 0,33 g 
- Air ad 1000 ml
Usulan formula :
NaCl 0,9 %
Aqua p.i ad 500 ml
Alasan pemilihan formula :
* Hanya menggunakan NaCl saja karena untuk mencuci lambung ( DI )
* Menggunakan aqua p.i karena menggunakan metode sterilisasi akhir 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar